Box Three

Para pakar filsafat konstruktivisme, progresivisme dan humanisme telah lama mempertimbangkan kemungkinan penggunaan pembelajaran tematik. Selama ini pembelajaran di sekolah, baik di tahun-tahun awal (kelas 1 sd 3) SD dan / atau madrasah ibtidaiyah atau kelas lain di sekolah atau sekolah menengah yang sama, lebih diarahkan pada pembelajaran yang tersegmentasi menjadi mata pelajaran atau bidang studi.

Format mata pelajaran atau dalam buku tematik bidang studi di sekolah sesuai dengan format keilmuan yang tersedia, sehingga pengetahuan dan pengalaman siswa di sekolah terbagi sesuai dengan segmen ilmu yang dipelajari. Akibatnya pengetahuan dan pengalaman siswa terfragmentasi dan tidak lengkap sesuai dengan perkembangan anak yang masih membutuhkan pengetahuan dan pengalaman yang komprehensif. Menurut Beans, pembelajaran tematik merupakan upaya mengintegrasikan perkembangan dan pertumbuhan peserta didik dengan keterampilan ilmunya (Beans, 1993 dalam Udin Syaefudin et al., 2006: 4).

Pembelajaran tematik disebut sebagai pembelajaran terpadu sebagai terjemahan dari pembelajaran terpadu. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai pendekatan kurikuler terintegrasi atau pendekatan kurikulum yang koheren. Pada dasarnya anak belajar melalui interaksi dengan lingkungannya, baik secara fisik maupun sosial. Dari interaksi ini anak memperoleh pengetahuan dan pengalaman.

Ketika anak berinteraksi dengan lingkungannya, mereka belajar banyak hal, mulai dari matematika, ilmu alam, ilmu sosial dan ilmu humaniora. Karena ilmu-ilmu tersebut di atas ada dalam masyarakat dan lingkungan sekitar anak, maka kedua ilmu tersebut merupakan konsep yang tidak didorong oleh masyarakat dan praktik penerapan ilmu-ilmu tersebut. Masyarakat dan lingkungan anak sebagai sumber belajar memberikan banyak informasi kepada anak meskipun anak belum mampu mengolah pengetahuan tersebut sesuai dengan bidang ilmu tertentu.

Tapi yang diterima anak adalah kesatuan dan keutuhan tanpa terpecah. Ketika seseorang terlibat dalam kehidupan sosial atau berada dalam lingkungan tertentu, ia dihadapkan pada berbagai institusi atau fenomena yang dapat memberikan berbagai jenis informasi. Misalnya saat seseorang berada di radio atau televisi. Hasilnya, mendapat hiburan (berbagai jenis hiburan, dari drama, orkestra, dll.), Informasi (yang berisi politik, bisnis, keuangan, olahraga, dll.), Dan sebagainya.

Sedangkan lingkungan seseorang tidak hanya terdiri dari satu lembaga, atau satu sumber informasi, apalagi satu gejala. Seolah-olah seseorang sedang membaca koran, ada banyak hal yang dapat dipetik dari berbagai informasi terlepas dari pengalaman spesifik pembacanya.

Hiburan dan informasi di atas diterima tanpa perbedaan. Terutama anak-anak sekolah dasar tanpa dapat dengan jelas menyusun barang-barang yang diterimanya menurut disiplin ilmu tertentu, karena belum memiliki konsep disiplin ilmu yang jelas. Oleh karena itu, pembelajaran yang menonjolkan fitur yang lengkap dan terintegrasi tidak lebih dari pembelajaran tematik.

Menurut T. Raka Joni (1996) pembelajaran terpadu adalah suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa baik secara individu maupun kelompok untuk secara aktif mencari, menggali dan menemukan konsep dan prinsip ilmiah secara holistik, bermakna dan otentik. Secara sederhana yang dimaksud dengan pembelajaran tematik adalah aktivitas siswa tentang bagaimana individu atau kelompok siswa dapat menemukan ilmu yang holistik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *